LAKPESDAM NU

Warta

15/10/2009

PBNU Minta Lakpesdam Senantiasa Kembali Pada Jati Diri dan Tujuan Berdirinya

Dalam rangka melaporkan rencana kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lakpesdam, beberapa pengurus dan pelaksana harian Lakpesdam berkunjung ke kantor PBNU pada Rabu (14/10/09). Pada kesempatan itu, Basihin Hasan, Ketua Pengurus Lakpesdam, menyampaikan beberapa hal terkait dengan rencana Rakernas Lakpesdam 2009 yang akan dilaksanakan pada tanggal 17 sampai 20 Nopember 2009 di kota Batu Malang Jawa Timur. ”Rakernas Lakpesdam kali ini diselenggarakan dalam rangka ikut serta mensukseskan Muktamar NU ke 32 di Makasar,” pungkas Nasihin Hasan di hadapan Ketua Umum PBNU.

03/09/2009

Nahdlatul Ulama Harus Perankan ‘Politik Mulia’

Nahdlatul Ulama sejatinya memerankan ‘politik mulia’, bukan politik praktis. Demikian salah satu poin yang disampaikan Slamet Efendy Yusuf dalam diskusi yang digelar Lakpesdam NU kemarin (2/09/09). Slamet lebih lanjut menegaskan bahwa sejak awal berdirinya, NU merupakan organisasi sosial keagamaan, bukan organisasi politik. Oleh karena itu, NU sebagai jam’iyyah harus konsisten menjadi organisasi sosial keagamaan, sedangkan jama’ah diberikan keleluasaan dalam menentukan sikap dan aktifitas politiknya. “NU harus menjadi zona netral yang menampung beragam aspirasi politik,” pungkas mantan Ketua Umum GP Anshor yang juga anggota MPR ini.


Kolom

04/09/2009

Islam Keras dan Santun

Tema radikalisme Islam kembali mencuat. Sebutannya pun bisa beragam, seperti ekstrem kanan, fundamentalis, dan militan. Ada juga yang menyebut radikal dengan sebutan Neo-Khawarij dan Khawarij abad ke-20.

Radikalisme sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang keladi radikalisme. Yang pasti, radikalisme berpotensi menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia.

Gerakan radikalisme bukan sebuah gerakan spontan, tetapi memiliki faktor pendorong. Gejala kekerasan ”agama” bisa didudukkan sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Akar masalahnya bisa ditelusuri dari sudut sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia.

29/07/2009

Pesantren, Terorisme, dan Langkah Penyelamatan

Terorisme tak beranjak dari negeri ini. Jumat 17 Juli 2009 lalu bom diledakkan di Mega Kuningan Jakarta, membantai sembilan jiwa dan melukai puluhan orang. Kita semua marah dan geram. Sesaat setelah itu, banyak aktivis HAM, tokoh agama dan politik mengecam kebuasan pelaku pemboman. Karangan bunga duka cita diletakkan, simbol belasungkawa bagi korban. Pengurus NU dan Muhammadiyah menyesalkan dan lantang menyuarakan kutukan atas pemboman itu. Tapi, mereka mewanti-wanti agar pemboman itu tak dikaitkan dengan Islam termasuk pesantren. Menurut mereka, Islam pesantren tak menganjurkan terorisme. Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, kata mereka tandas.

 
Developed by Digdaya Desain, ilustrasi, dan isi situs Copyright © 2006 PP Lakpesdam NU. All rights reserved.