Rumah Kebangsaan bersama Lakpesdam PBNU dan NU Online menyelenggarakan Ngobrol Publik Daring bertajuk “Penjaga Negeri: Gerak Kemanusiaan untuk Masyarakat” pada Jumat, 26 Februari 2021. Acara ini merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama (NU) yang ke-98. Sebelumnya, diskusi serupa juga telah diselenggarakan pada 28 Januari 2021 dengan tema “NU Penjaga NKRI: Dulu, Sekarang, dan Masa Depan”.

Acara ini menghadirkan KH. Robikin Emhas sebagai keynote speaker, dengan beberapa pembicara yang lain yaitu Margaret Aliyatul Maimunah (Sekretaris Umum PP Fatayat NU), Dr. Rahmawati Husein (Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center), M. Ali Yusuf, M.Si (Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim PBNU), serta Nadirsyah Hosen (Monash University). Moderator diskusi yang dihadiri lebih dari 100 peserta ini adalah Erika Widyaningsih dari Rumah Kebangsaan.

Marzuki Wahid selaku pengurus Lakpesdam PBNU mengantarkan acara ini dengan menyampaikan pandangannya terkait usia NU yang hampir mencapai satu abad. Menurutnya NU lahir untuk menciptakan kemaslahatan masyarakat secara umum. “Artinya kehadiran NU bukan hanya untuk NU, tapi untuk kemaslahatan bangsa dan untuk kemanusiaan,” tambahnya.

Sebelumnya, Ketua PBNU, KH. Robikin Emhas, telah mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga kerukunan antarumat beragama. Selain itu Kyai Robikin juga menjelaskan bahwa NU membangun konsep three ukhuwah. “Persaudaraan sesama iman atau ukhuwah Islamiyah, persaudaraan setanah air atau ukhuwah wathoniyah, serta persaudaraan sesama manusia atau ukhuwah basyariyah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kyai Robikin juga menjelaskan bahwa Islam bukan hanya soal ketuhanan (teologi) atau teori ajaran (ubudiyah) saja namun juga tentang peradaban. “Itulah mengapa Islam disebut juga agama kemanusiaan,” lanjutnya.

Dalam acara ini hadir pula Margaret Aliyatul Maimunah, Sekretaris Umum PP Fatayat NU. Sebagai organisasi perempuan di bawah Nahdlatul Ulama, Fatayat NU mewadahi perempuan untuk bisa bergerak lebih luas tidak hanya di ruang domestik. “Fatayat NU juga mendorong dan memberdayakan perempuan untuk bisa ikut secara aktif dalam ruang-ruang publik,” imbuhnya.

Pembicara lain yang juga hadir adalah Dr. Rahmawati Husein, Wakil Ketua Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Ia menyampaikan bahwa ada empat prinsip global yang juga dijunjung organisasi-organisasi kemasyarakatan seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama dalam kerja-kerja kemanusiaan. “Yang pertama adalah kemanusiaan (humanity), kedua imparsialitas yang menekankan untuk membantu tanpa membeda-bedakan golongan, ketiga independensi tanpa ada maksud terselubung dalam membantu untuk kemanusiaan, dan yang keempat adalah netralitas tanpa memihak siapapun kecuali penyintas,” jelas Rahmawati.

Senada dengan Rahmawati, Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim (LPBI) PBNU, M. Ali Yusuf juga meyakini jika aksi-aksi kemanusiaan bisa menyatukan semua pihak. “Kita sudah terbiasa saling bekerja sama dalam aksi kemanusiaan baik dengan MDMC maupun yang lainnya. Kami juga meyakini jika aksi kemanusiaan ini bukan hanya untuk satu golongan saja tapi untuk semua pihak,” pungkasnya.

Nadirsyah Hosen dari Monash University menambahkan jika di era digital saat ini aksi-aksi kemanusiaan sudah sangat dimudahkan. Sebagai contoh dalam hal penggalangan dana banyak yang menggunakan platform kitabisa.com karena kemudahannya untuk diakses di mana saja. “Tantangannya saat ini adalah menciptakan program-program yang berkesinambungan karena kecenderungan orang memberi sumbangan pada saat ada event saja. Maka perlu dipikirkan program yang berkelanjutan seperti beasiswa misalnya,” tutur pria yang kerap disapa Gus Nadir ini.