Beberapa tahun yang lalu, saya mendengar isu tentang rencana Natal bersama di daerah Pamulang, Tengerang, Memang hari itu adalah hari-hari menjelang perayaan Natal karena bulan sudah menunjukkan bulan Desember. Tentunya umat Kristiani ingin merayakan hari besarnya layaknya orang Islam merayakan Idul Fitri. Tapi apa boleh buat perayaan Natal bersama gagal dilaksanakan setelah sekitar 500 orang Muslim membubuhkan tanda tangan menolak perayaan Natal Bersama.
Tema radikalisme Islam kembali mencuat. Sebutannya pun bisa beragam, seperti ekstrem kanan, fundamentalis, dan militan. Ada juga yang menyebut radikal dengan sebutan Neo-Khawarij dan Khawarij abad ke-20.
Radikalisme sekelompok Muslim tidak dapat dijadikan alasan untuk menjadikan Islam sebagai biang keladi radikalisme. Yang pasti, radikalisme berpotensi menjadi bahaya besar bagi masa depan peradaban manusia.
Gerakan radikalisme bukan sebuah gerakan spontan, tetapi memiliki faktor pendorong. Gejala kekerasan ”agama” bisa didudukkan sebagai gejala sosial-politik daripada gejala keagamaan. Akar masalahnya bisa ditelusuri dari sudut sosial-politik dalam kerangka historisitas manusia.
Salah satu persoalan umat Islam khususnya dan manusia pada umumnya adalah persoalan kesenjangan kehidupan antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok yang lain. “Bukan kisah kaum kaya yang kian kaya dan kaum miskin yang makin miskin, tetapi kisah tentang kaum kaya yang menjadi kaya lebih cepat dari pada kaum miskin.” Demikian laporan Asian Development Bank (ADB) tahun 2007 yang berjudul Kesenjangan di Asia.
Laporan Bank Dunia tahun 2002 menunjukkan bahwa ada 1,2 milyar manusia dari 2 milyar manusia di muka bumi ini yang hidup dengan penghasilan kurang dari US$ 1/hari. Lebih dari 1 milyar manusia di negara berkembang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih dan 2 milyar lainnya kesulitan mendapatkan sanitasi/kebersihan yang mengakibatkan mereka tidak bisa menghindari kematian akibat penyakit yang sebenarnya bisa dihindari. Begitu juga dengan laporan BPS terakhir yang dipublikasikan bulan Maret 2007 menunjukkan angka kemiskinan di Indonesia sebesar 16,58% dari seluruh penduduk Indonesia. Nominalnya mencapai 37,17 juta orang.
Terorisme tak beranjak dari negeri ini. Jumat 17 Juli 2009 lalu bom diledakkan di Mega Kuningan Jakarta, membantai sembilan jiwa dan melukai puluhan orang. Kita semua marah dan geram. Sesaat setelah itu, banyak aktivis HAM, tokoh agama dan politik mengecam kebuasan pelaku pemboman. Karangan bunga duka cita diletakkan, simbol belasungkawa bagi korban. Pengurus NU dan Muhammadiyah menyesalkan dan lantang menyuarakan kutukan atas pemboman itu. Tapi, mereka mewanti-wanti agar pemboman itu tak dikaitkan dengan Islam termasuk pesantren. Menurut mereka, Islam pesantren tak menganjurkan terorisme. Islam adalah agama yang rahmatan lil alamin, kata mereka tandas.
Tentu bukan tanpa alasan jika pada tahun 1926 para ulama mendirikan NU. Keterpurukan warga pribumi akibat kolonialisme ditambah ancaman wahabisme yang menggerogoti cara beragama masyarakat menjadi salah satu faktor penting mengapa organisasi Islam terbesar, tidak saja di tanah air tetapi juga di dunia ini, berdiri. Suasana yang tidak kondusif inilah yang hendak dibenahi dengan mengonsolidasi dalam wadah perjuangan para ulama: Nahdlatul Ulama.
Kini NU hampir berumur satu abad. Tentu, di usia yang dapat dikatakan tidak muda ini, banyak hal yang telah dilakukan oleh NU. Namun tidak sedikit yang juga diabaikan oleh NU. Dengan jumlah massa yang demikian besar, tentu NU memiliki tanggung jawab yang demikian besar dalam memperjuangkannya. Karena NU adalah jam’iyyah sekaligus jama’ah, maka kebesaran NU hanya bisa diukur dengan keberhasilan dan kebesaran pada kader atau konstituen (jama’ah) sekaligus peran yang dimainkan jam’iyyah dalam memperjuangkan jam’ahnya. Keberhasilan ini hanya mungkin dicapai jika jam’iyyah NU mampu menyusun perencanaan-perencanaan strategis untuk kemudian mengimplementasikannya dalam rangka mencapai cita-cita bersama jam’iyyah.

