Edisi 27/2009; Segera Terbit, 25.000
Berjuang untuk bangsa bukan hal baru dari apa yang diperankan Nahdlatul Ulama. Justru perjuangan untuk bangsa itulah yang menjadi argumen mendasar kehadirannya di Indonesia di samping untuk merawat tradisi Islam yang diam-diam (di)luntur(kan) oleh gelombang lain di tanah air.
Oleh karena kehadirannya jauh sebelum kemerdekaan, maka peran-peran perjuangan NU melawan penjajahan di Indonesia sangat nyata. Keterlibatannya dalam perumusan dasar negara di era-era pembentukan bangsa ini juga tidak luput dari peran Nahdlatul Ulama bersama-sama dengan elemen lain di bumi nusantara ini.
Persoalan inilah yang menjadi fokus utama edisi kali ini. Melalui tulisan redaktur tamu, Slamet Effendy Yusuf, yang mengurai tentang bagaimana NU mengusulkan rancang bangun sistem ketatanegaraan di era-era awal pembentukannya. Perdebatan seputar dasar negara dan bagaimana peran NU di sana juga menjadi uraian tulisan yang berjudul Perumusan Negara Masa Khittah: Pancasila sebagai Ideologi Final.
Selain itu, tulisan ini ditopang tulisan Ketua Umum PBNU, KH. Ahmad Hasyim Muzadi. Dalam tulisannya yang berjudul Nahdlatul Ulama Mengabdi untuk Bangsa, ia menegaskan bagaimana peran-peran politik NU yang sepenuhnya berorientasi politik kebangsaan dan keumatan. Keputusan NU untuk kembali ke khittah pada muktamarnya di Sukorejo, ungkapnya, bukan berarti memutus peran politik itu. Malah khittah memberikan keleluasaan kepada jama’ahnya untuk berperan secara politik dengan dibingkai etika.
Tulisan lainnya adalah Politik NU Kembali Ke Khittah. Artikel yang ditulis mantan sekretaris Tim Tujuh untuk Pemulihan Khittah, M. Said Budairy, ini hendak mengurai argumentasi mengapa NU merasa perlu untuk menegaskan identitas sebagaimana pada awal mula didirikannya. Apa yang dikenal dengan Khittah NU inilah yang sesungguhnya menjadi semangat awal keberadaan NU. Terbengkalainya kerja-kerja dan khidmah kebangsaan dan keumatan inilah yang menjadi pemicu utama kenapa NU memutuskan kembali ke khittah. Melengkapi artikel utama edisi ini, Syaiful Arif menulis artikel dengan judul NU Pasca Tradisi: Pergeseran Nilai Pasca Orde Baru. Tulisan ini hendak memotret peran-peran sosial intelektual, bahkan politik, warga NU pasca tumbangnya Orde Baru. Perbedaan orientasi, antara bertahan di jalur kultural-intelektual dan beralih pada jalur politik menjadi fenomena tersendiri di era pasca tumbangnya Orde Baru ini. Beberapa kasus ini yang diurai dalam tulisan Arif tersebut.
Di samping tema-tema yang menjadi fokus utama, edisi ini juga dilengkapi dengan beberapa tulisan seperti Pesantren, Dakwah, dan Pengembangan Masyarakat yang ditulis Asyhabuddin Mustahar; Syiir Madura: Silsilah, Ciptaan, dan Ragam Perubahannya yang ditulis M. Faizi; dan Menuju Fiqih Politik Berperspektif Perempuan yang ditulis Umma Farida. Selain itu, edisi ini dilengkapi dengan wawancara ekslusif dengan Wakil Rais ‘Aam PBNU, Prof. Dr. KH. Tholhah Hasan. Akhirnya, semoga edisi kali ini memberikan pengayaan informasi bagi pembaca untuk kemudian menginspirasi bagi pembenahan NU dan bangsa. Selamat membaca! []


gimana cara mendapatkannya??
— M. Kamil Akhyari Jul 11, 12:20 PM #
Gimana bisa mendapatkan buku ini?
— Amirudin R.Tomawonge Aug 5, 04:48 PM #