Jakarta – PP Lakpesdam NU. Selasa siang (8/6), bertempat di Kantor PP Lakpesdam NU, Jl. H. Ramli 20A Menteng Dalam, Tebet, Jakarta Selatan, diadakan acara serah terima jabatan Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU, dari pengurus periode 2005 – 2010 yang dipimpin M. Nashihin Hasan kepada pengurus periode 2010 – 2015 yang diketuai Yahya Ma’shum. Selain pengurus lama dan baru, acara yang dimulai lewat tengah hari itu juga dihadiri oleh M. Imam Aziz (ketua PBNU) dan Imdadun Rahmat, MA (wakil Sekjen PBNU), serta seluruh staf pelaksana.
Rangkaian acara sertijab yang dipandu oleh MS. Wai itu dibuka dengan pengantar serah terima oleh M. Nashihin Hasan. Dalam sambutannya Nashihin mengaku bangga atas kepercayaan yang selama ini diembankan oleh PBNU ke pundaknya dan berterima kasih kepada sesama pengurus yg selama lima tahun telah bahu membahu membesarkan Lakpesdam. Ia juga bersyukur kepengurusan baru yang akan melanjutkan tongkat estafetnya diisi oleh banyak tokoh berbobot, bahkan sebagian merupakan alumni Lakpesdam yang telah sekian lama “mengembara” dan meningkatkan kapasitas serta wawasan di berbagai lembaga dan negara.
Usai pengantar, Lilis Nurul Husna, Direktur PP Lakpesdam NU, yg pada kepengurusan baru duduk sebagai sekretaris, menyampaikan high light lima tahun terakhir perjalanan lembaga yang berdiri pada tahun 1985 tersebut. Dengan sepuluh slide berisi foto-foto, peta dan tabel, Lilis memaparkan kerja-kerja pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kader yang telah dilakukan Lakpesdam melalui berbagai program dan strategi, seperti agronomi, pelatihan ulama dan syuriyah, pengembangan demokrasi deliberatif, transformasi sosial dan sebagainya. “Dalam baju program apa pun, semua yang telah dilakukan lakpesdam adalah implementasi atas mandat pengembangan kader dan SDM warga Nahdliyyin yang telah diamanahkan oleh PBNU,” tandas Lilis. “Dan melalui pengalaman mengawal berbagai program pemberdayaan, dari Aceh hingga papua, selama ini, kami telah banyak berjumpa dengan kader-kader NU di berbagai pelosok tanah air yang memiliki ghirah luar biasa untuk ikut memperjuangkan nilai-nilai ke-NU-an.”
Menutup presentasinya, Lilis juga mengatakan, “ Lakpesdam bermimpi suatu ketika kader-kader tersebut bisa disentuh dan diberdayakan, diberi kartu identitas ke-NU-an (Kartanu), dikirimi panduan pengembangan jamaah dan jam’iyyah, sehingga menjadi modal kekuatan riil yg luar biasa bagi NU.“
Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan dokumen Lakpesdam sebagai simbol penyerah terimaan kepengurusan lembaga dari Nashihin Hasan kepada Yahya Ma’shum. Dengan disaksikan Imam Aziz dan Lilis Nurul Husna, ketua PP Lakpesdam NU yang lama menyerahkan satu bendel dokumen dan satu box dokumen lain kepada pengurus baru.
Tidak Dianggap Kader
Usai menerima dokumen, Yahya menyampaikan sambutan. “Ke depan, kita harus semakin peka namun fleksibel dalam memandang kader NU, sehingga bisa lebih banyak merangkul dan memberdayakan mereka untuk NU. Sebab di luar struktur jam’iyyah ada banyak sekali kader kultural yg potensial, baik secara kapasitas keilmuan, wawasan maupun finansial, yang ingin sekali memberikan sumbangsih kepada jam’iyyah. Namun sayang, tidak terlalu intensnya kontak mereka dengan jam’iyyah secara struktural seringkali membuat mereka tidak dianggap kader.”
Selain menyampaikan pandangan tentang kader, Yahya juga menegaskan komitmannya melanjutkan program-program lama yang sudah baik, sambil terus melakukan terobosan membuat program-program baru yang lebih baik. Selain itu, tokoh senior Lakpesdam yg sebelumnya menjabat wakil ketua PP Lakpesdam itu juga mengungkapkan keinginannya mengembangkan pelatihan untuk ulama muda, sebagaimana sebelumnya pernah dirintis melalui program pemberdayaan syuriyyah.
Usai sambutan ketua baru, giliran Imam Azis yang mewakili PBNU didapuk menyampaikan sambutan. Dengan gayanya yang segar, salah seorang ketua PBNU itu mengucapkan selamat atas serah terima jabatan PP Lakpesdam NU. Lebih lanjut Imam menyoroti kerinduan lapisan terbawah dari umat islam dan rakyat Indonesia yang selama ini agak terabaikan oleh jam’iyyah. “Misalnya korban lumpur Lapindo di Sidoarjo, korban Exxon di Tuban dan Jombang, dan masih banyak lagi kelompok-kelompok masyarakat tertindas lainnya yang tengah menantikan sentuhan langsung dari Nahdlatul Ulama dan seluruh elemen organisasinya,” ujarnya.
Acara serah terima jabatan sore itu ditutup dengan curah pendapat dari para hadirin, dengan tema “Kontribusi Lakpesdam untuk Penguatan NU ke Depan”. Acara yang dimoderatori oleh Khamami Zada itu berlangsung gayeng. Tak kurang Miftahudin Bisri, Daniel Zuhron, Nurkholis Setiawan, Marzuki Wahid, Imdadun Rahmat, Ahmad Baso, dan Ahmad Su’aedy urun rembug menyampaikan gagasannya. Selain ide-ide segar tentang pengembangan kader, para hadirin juga melontarkan gagasan tentang perlunya penguatan pencitraan di media. “Aktivis NU ini kebanyakan tawadhu’, tak mau terlalu sering tampil di media. Sehingga tak heran meski telah melakukan banyak hal untuk umat dan bangsa, nama orang lainlah yang selalu menjadi buah berita,” kata Daniel bersemangat.
Acara serah terima jabatan PP Lakpesdam NU sore itu ditutup dengan ramah tamah pengurus lama dan pengurus baru. Di antara mereka tampak Velix Wanggai, Marzuki Wahid, A. Wazir Wicaksono, dan beberapa tokoh lain yang berbincang akrab hingga waktu Maghrib tiba. (AIS)

