KEGIATAN

Admin Media Sosial, Garda Terdepan Kampanye Moderasi Beragama di Dunia Maya

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tim Media Sosial Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengikuti Pelatihan Manajemen Medsos Damai. Kegiatan yang dilaksanakan oleh Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Masjid Ukhuwah Islamiyah Universitas Indonesia (UI) dengan Subdit Kontra Naratif, Direktur Pencegahan Densus 88 Polri ini digelar di aula masjid setempat, Sabtu (1/3/2023). Selain peserta dari Tim Medsos Lakpesdam PBNU, kegiatan juga diikuti para mahasiswa-mahasiswi Sahabat Masjid UI. Ketua penyelenggara, Imam K Hayatullah menjelaskan kegiatan kali ini merupakan upaya untuk memberi wawasan terkait pentingnya moderasi beragama dalam bermedsos.Sehingga, para pegiat media sosial yang hadir dalam pelatihan bisa lebih paham, bisa memfilter narasi-narasi yang beredar di era digital saat ini mana yang positif dan mana yang negatif.”Kebetulan yang hadir adalah admin-admin media sosial lembaga, fakultas dan komunitas sehingga diharapkan bisa menebarkan Islam rahmatan Lil alamin di dunia maya. Sebab, para admin-admin ini lah yang menjadi garda terdepan untuk menebarkan toleransi dan mengkampanyekan pentingnya moderasi beragama,” jelasnya. Hadir sebagai narasumber para pegiat digital yang kompeten di bidangnya di antaranya Kasubdit Kontra Naratif, Direktur Pencegahan Densus 88 Polri,Mayndra Eka Wardhana, kemudian Direktur Eksekutif Jaringan Moderat Indonesia, Islah Bahrawi, dan juga penulis Gramedia, Khoirul Anam. Dalam paparannya, Kasubdit Kontra Naratif, Direktur Pencegahan Densus 88 Polri,Mayndra Eka Wardhana, menyampaikan di era digital seperti saat ini paparan ekstrimisme bisa terjadi di rumah, bahkan di kamar. “Seseorang yang tidak pernah ke mana-mana, di rumah saja, bisa terpapar ekstrimisme hanya dari internet dan media sosial. Karena itu, penting untuk menyebarkan konten-konten positif dan membuat kontra narasi untuk mengimbangi konten-konten intoleransi yang mengarah pada gerakan ekstrimisme,” ujarnya.Selanjutnya, paparan tentang pengetahuan lebih dalam terkait media sosial disampaikan pegiat media digital, Islah Bahrawi. Menurutku pengetahuan yang penting diketahui oleh admin media sosial adalah terkait algoritma. Menurutnya, mengetahui algoritma media sosial penting karena algoritma tersebut menjadi dasar dalam menentukan bagaimana konten yang diunggah dapat dilihat dan dikonsumsi oleh pengguna media sosial. Dengan memahami algoritma, admin media sosial dapat merancang strategi yang efektif dalam membuat konten yang relevan dan menarik bagi pengguna, sehingga meningkatkan engagement dan reach pada akun media sosial mereka.Selain itu, dengan mengetahui algoritma media sosial, admin dapat memahami bagaimana mengoptimalkan penggunaan fitur-fitur pada media sosial untuk meningkatkan visibilitas akun, seperti penggunaan hashtag, tagging, dan fitur lainnya. Hal ini dapat membantu admin untuk memperluas jangkauan konten mereka kepada lebih banyak orang dan memperkuat kehadiran merek atau produk pada platform media sosial.Terakhir, mengetahui algoritma media sosial dapat membantu admin untuk mengukur keberhasilan kampanye media sosial mereka dan memperbaiki strategi di masa depan. Dengan memahami bagaimana algoritma media sosial menentukan konten mana yang lebih disukai dan mendapatkan engagement yang lebih tinggi, admin media sosial dapat menyesuaikan konten mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan. “Dan juga dari sini kita bisa menganalisa apakah ini akun buzzer, atau akun asli, karena sekarang banyak akun-akun buzzer yang berkeliaran di internet. Pengetahuan tentang buzzer-buzzer ini juga penting,” papar Islah. Selain belajar tentang penyaringan konten negatif, para peserta juga diberi pelatihan bagaimana mengerti teknik mengetahui algoritma media sosial, dan juga data analytics tools untuk mengumpulkan dan mengolah berbagai data milik pengguna media sosial.Diharapkan dengan pembekalan yang diberikan dalam bermedia sosial ini para admin medis sosial yang hadir bisa menerapkan apa yang didapat dalam pekerjaannya sehari-hari.